Forum Lingkar Pena - Cab Serang
E-mail : flp_serang@yahoo.com.

S E K U T U
Cybersastra
Titik Nol
Qizink La Aziva
FLP Yogyakarta
Poésie
Ritual Malam
Nanang Suryadi
Agustinus Wahyono
Hasan Aspahani

D O K U M E N
Powered by TagBoard Message Board
Name

URL or Email

Messages (
smilies)


FastCounter by bCentral

Friday, October 03, 2003

IMAGINE FROM LENNON

pagipagi sekali
kulihat di layar kaca
seorang bocah dengan perban penuh darah
di kepala

Bara!
untuk apa?
bila desing peluru
tak sanggup menunggu
deru bocah merindu

28 maret 2003


KENAPA MESTI ADA PERANG

seorang bocah berwajah resah
meraup darah membuncah
dari tubuh ayah
pada subuh yang indah

kenapa mesti ada tentara
kenapa mesti ada senjata
kenapa mesti ada perang
di tanah kami yang gersang

lihatlah, di langit sana
lima puluh bintang mengangkang
memuntahkan bolabola api
ke tengah negeri kami

seorang bocah di tanah bashrah
memunguti percikpercik darah
dan telinganya mungkin kelak akan terbiasa
mendengar peluru beradu


Anyer, 20 Maret 2003


CERITA TENTANG SEORANG KOBOI AMERIKA

ini ceritera tentang seorang koboi amerika
ia pingin nunggang unta padang sahara
pura-pura jadi nabi
bawa kitab suci demokrasi
yang telah berulang kali ia beraki sendiri

lalu diutusnya seribu perwira
untuk menangkap si penggembala
tapi mereka lebih suka
berenang di ladang minyak samudera

aha!
rakyat tak bisa didusta
mereka tahu koboi bawa senjata
rakyat tahu mana surga mana neraka
waspada! ada koboi dari amerika


tanah damai, 28032003











Posted by Modal Gratis : 3:46 AM
AH,

mayatmayat telah diserahserakkan kerandakeranda telah diusung doadoa telah dialamatkan mantramantra telah dibacakan orangorang telah dibatubutakan

didepan pintunya sejenak kita menengok apakah jubah tuhan telah dicuri, sedang bersendawa bersama bidadari atau tuhan memang sudah mati

ah,
kita tak pernah diberi tahu untuk apa sebuah kemenangan diperjuangkan

Cilegon, 13 Mei 2003







Posted by Modal Gratis : 3:39 AM



Saturday, March 15, 2003

PETISI MENENTANG PERANG

Kami berhimpun di sini
digerakkan oleh kepercayaan pada kemanusiaan dan akal sehat.

Kami percaya
tak ada manusia lebih mulia ketimbang lainnya.
Kami percaya
tidak ada manusia yang lebih berwenang terhadap kebenaran, lebih dari
yang lain.
Kami percaya
pada kemanusiaan dan akal sehat,
yang meniscayakan hubungan antar insan menjadi beradab.

Maka kami mengerti,
pencederaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan akal sehat
hanya akan mengakibatkan penderitaan bagi umat manusia.
Kami berpendapat,
pencederaan paling mengerikan atas nilai-nilai tersebut
adalah pengobaran peperangan terhadap sesama.
Kami mencatat,
tak terhitung jiwa telah melayang sia-sia
akibat peperangan dan kekerasan di seluruh sudut bumi sepanjang masa.
Kami membaca,
saat ini sekurangnya 11 juta umat manusia harus menyeberangi tapal
batas negaranya, hidup di tempat-tempat pengungsian, akibat
peperangan dan kekerasan.

Peperangan,
tak pernah memberi kami kepercayaan mampu menuntaskan masalah.
Peperangan,
sekarang dan seterusnya, menurut kami hanya alat
untuk mengabadikan kekerasan dan peperangan lainnya.
Peperangan,
hanya memberitahukan kepada kami, betapa rendahnya
pikiran-pikiran dibalik serenceng alasan perang,
sehingga alat-alat pembunuh manusia harus digerakkan
melakukan penumpasan terhadap sesama.

Maka kami yang berhimpun di sini menyatakan:

· Menolak
rencana perang yang dikobarkan Presiden Amerika Serikat George W Bush
terhadap Irak.

· Mengimbau
segenap umat manusia untuk menentang terus menerus setiap rencana
peperangan yang dipikirkan dan dilakukan siapapun dan kapanpun,
serta demi alasan apapun.


Jakarta, 8 Maret 2003


Yayasan Multimedia Sastra
Komunitas "cybersastra.net"
Milis "penyair"
Milis "puisikita"
Milis "Gedong Puisi"


Posted by Modal Gratis : 7:47 PM



Sunday, March 02, 2003

SEALIF
Sajak : Qizink La Aziva

sealif rindu
tegak sembahyangku

sealif rindu
satu cintaku

sealif rindu
padaMu


Cilegon, 18 Januari 2003



Posted by Modal Gratis : 4:36 AM
Peluncuran dan Bedah Buku Sastra Sufistik
Ruang Kenanga Lt. 1
Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta
Senin, 10 Maret 2003, Pukul 13.30 WIB


Menyusuri Jejak Sufisme dalam Karya Sastra

Pengalaman lebih dari 40 tahun, didukung sumber daya manusia andal
dan teknologi mutakhir telah menempatkan Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri di garda depan dalam barisan penerbit buku pelajaran. Akan
tetapi, prestasi ini tidak lantas membuat TSPM berpuas diri. Secara
berkesinambungan TSPM senantiasa melakukan evolusi-evolusi
kreativitas. Wujud nyata dari semangat menyempurnakan diri ini
terejawantah dalam pengembangan divisi usaha dan deversifikasi
produk. TSPM kini hadir dengan buku-buku bacaan anak yang mendidik,
memberikan bekal awal kreatifitas, keterampilan moral dan ketakwaan.
Selain itu, TSPM juga mengemuka dengan buku-buku bacaan nonpelajaran
yang merupakan representasi dari suatu idealisme dan sebuah budaya
intelektual yang dimiliki.
Berbicara tentang buku berkualitas, TSPM adalah jawaban. TSPM adalah
penerbit yang setia pada komitmen hanya menerbitkan buku-buku yang
berorientasi pada kualitas, seperti buku-buku sosial humaniora yang
akan mengembangkan Wacana dan memberikan sentuhan seni budaya bagi
pertumbuhan jiwa buku-buku agama yang sangat jauh dari aroma
dogmatisme karena TSPM memilih memberikan buku-buku agama yang
mengajak pembaca melakukan dialektika pemikiran juga buku-buku sains
dan teknologi yang akan membuat pembaca menjadi manusia berwawasan
teknologi dan mampu meningkatkan keterampilan.
Dalam rangka memperkenalkan produk terbarunya, TSPM memulai dengan
berperan aktif dalam pameran buku bertajuk Islamic Book Fair 2003
yang akan berlangsung dari tanggal 7 hingga 16 Maret 2003. Di dalam
rangkaian acara pameran, TSPM menyelenggarakan acara Peluncuran dan
Bedah Buku Sastra Sufistik (Internalisasi Ajaran-Ajaran Sufi dalam
Sastra Indonesia).
Buku karya Bani Sudardi ini memaparkan fakta-fakta menarik tentang
internalisasi ajaran para sufi yang terefleksikan dalam karya sastra
dan telah menjadi bagian dalam sejarah sastra di Indonesia. Buku ini
memiliki daya pikat untuk dicermati karena realitas empiris berbicara
bahwa substansi satu ideologi (agama) sering kali dipersepsi beragam
oleh berbagai pihak yang berbeda sehingga nilai kebenaran didalamnya
pun menjadi sangat nisbi. Fakta ini adalah jawaban mengapa
internalisasi ajaran-ajaran agama kerap diwarnai dengan darah
bersimbah. Di dalam Islam, perbedaan persepsi yang melahirkan
absurditas kebenaran agama memunculkan berbagai format aliran. Titik
kuluminasi perbedaan yang dinilai telah melewati ambang batas
toleransi adalah lahirnya kelompok sufi yang dianggap ekstrem. Al-
Hallaj, salah seorang sufi mengatakan, "sayalah Tuhan itu". Di
Indonesia ada Syekh Siti Jenar dengan ideologi serupa dan hidupnya
berakhir dengan kepala terpenggal. Ini adalah sebagian tragedi yang
mewarnai perjalanan para sufi dan sufisme.
Tema eksotis inilah yang akan dikupas tuntas dalam acara bedah buku
berjudul Sastra Sufistik (Internalisasi Ajaran-Ajaran Sufi dalam
Sastra Indonesia). Bedah buku ini akan diselenggarakan di Ruang
Kenanga lantai I Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, pada hari
Senin 10 Maret 2003 pukul 13.30. Sebagai pembicara dihadirkan
sastrawan besar Taufiq Ismail. Selain membahas tentang sastra
sufistik sebagai salah satu elemen pembangunan sejarah sastra
Indonesia, Taufiq Ismail juga akan memberikan sentuhan estetik karena
di antara rangkaian acara bedah buku ia akan membacakan puisi-puisi
sufistiknya.




From: ">matahariretak
To: pasarbuku@yahoogroups.com

Posted by Modal Gratis : 4:31 AM



Tuesday, February 25, 2003

Salam Dari Rumah Dunia
Oleh : Gola Gong


WISATA TULIS
ANAK JADI CERDAS DAN KRITIS




walau ayahku pengemudi becak
tapi aku punya cita-cita
walaupun ibuku penjual jamu
tapi aku tak pernah lupa menuntut ilmu

pagi aku pergi sekolah
siang aku bantu ibu
untuk masak di dapur
setiap malam aku belajar
agar cita-citaku tercapai



***





SIMPATI PUISI

Sajak di atas adalah karya Novi Yanti, pelajar kelas 6 SDN Sumber Agung Cipocok. Dia sangat rajin datang ke Pustakaloka Rumah Dunia (PRD). Ayahnya pernah jadi pedagang kelontong. Karena tertipu, bisnis ayahnya bangkrut. Kini ayahnya kerja apa saja. Seperti sekarang, ayahnya berjualan duren di depan rumah. Sedangkan anak-anak yang lain, ada yang anak tukang becak, petani, buruh pasar di Jakarta, pedagang di pasar Rawu, atau supir angkot. Puisi di atas adalah rasa simpati (boleh juga empati) dari Novi terhadap kehidupan temannya yang anak tukang becak dan pedagang jamu. Perasaan yang kini sangat jarang kita temui di sekitar kita, yang individual dan hedonis.



Terutama sense of crisis dari para penguasa dan pemimpin kita di Banten, terhadap rakyat yang diwakilinya. Banyak kasus ketidakpekaan itu di Banten mencuat, yang membuat perasaan kita trenyuh dan miris. Kasus pasien patah tulang di Lebak, yang ditolak RSUD Serang karena tak mampu menyediakan uang Rp 10 juta untuk biaya operasi. Dengan sikon seperti itu, maka sekarang waspadalah jika bepergian di Banten. Jika kita terluka di tengah jalan dan tak bawa KTP, bisa-bisa kita dibiarkan mati saja. Begitulah kira-kira analoginya.



RUTIN

Nah, dengan puisilah kami melatih anak-anak supaya mempunyai kepekaan nurani terhadap lingkungan. Itu rutin di PRD. Tepatnya di “wisata tulis’ (setiap Rabu, jam 13.00 – 17.00pm). Anak-anak kami ajak untuk menulis puisi atau prosa tentang ibu yang mengandung mereka selama sembilan bulan, bunga yang madunya banyak, kupu-kupu yang jadi penghias taman, hujan yang memberkahi sawah-sawah ayah mereka, dan bulan yang sahabat matahari. Hasilnya, April/Mei nanti akan terbit antologi puisi anak-anak PRD jilid kedua. Bahkan sekarang, mereka sedang bersemangat untuk bisa ikut dalam “Lomba Mengarang Jakarta Books 2003” dengan tema “Indonesia Tanah Airku”.



Kami melakukan seleksi ketat terhadap mereka dengan cara membuat karanan bersama-sama di PRD. Tias berperan besar di sini. Dia membimbing mereka untuk efektif memakai bahasa. Selalu ada revisi di setiap karangan yang merea buat. Yang tidak memenuhi persyaratan gugur. Rencananya kami hanya akan menyertakan 5 orang anak di lomba ini. Ketika 5 anak sudah terpilih, kami akan menyuruh mereka menulis karangannya di PRD (bukan di rumah) tanpa campur tangan lagi dari orangtua mereka dan kami, sehingga nanti karya-karya mereka bisa kami pertanggungjawabkan sebagai murni hasil karya mereka.



Kadang kami berpikir, andai saja pihak sekolah (dari SD s/d SMU) memaksimalkan kurikulum berbasis kompetensi dengan cara mewajibkan setiap anak membuat puisi atau prosa setiap bulannya. Atau pihak sekolah dan guru Bahasa Indonesia mengadakan lomba menulis puisi/prosa di sekolahnya masing-masing secara rutin. Perbulan, misalnya. Hadiahnya bisa sebuah buku/novel (untuk anak SMU dan SLTP) atau buku gambar dan pinsil warna (SD). Kami akan heran kalau kegiatan ini tidak bisa dilaksanakan, karena soal minimnya biaya, sementara di setiap tahun ajaran baru biaya masuknya bisa mencapai jutaan rupiah.



Tapi ketika birokrat dan teknokrat di Banten sekarang, kerjanya hanya menghitung komisi saja, maka berpalinglah ke para praktisi. Di Banten ini banyak cerpenis atau penyair kelas lokal sampai nasional. Manfaatkanlah mereka untuk urun-rembuk dalam mencedaskan genrasi masa depan Banten, yang kritis dan cerdas.Di mulai dari sekolah-sekolah dasar dulu. Keudian ke tingkat SLTP dan SMU. Undang mereka untuk memberikan tips-tips pada para siswa/pelajar/mahasiswa. Tentu honorilah merka dengan layak.



Bagaimana, para pemimpin? Berani?





DAFTAR PENYUMBANG:

* Penerbit Fatahilah Bina Alfikri, Jakarta; 33 novel remaja islami.
* The British Council, Jakarta; 1 buku (Mewujudkan Partisipasi).
* Dynamic Duo, Bandung; sedus novel anak-anak dan majalah horison


Posted by Modal Gratis : 1:09 AM



Monday, February 24, 2003

LAMPU KOTA
Qizink La Aziva

separuh lagi
bulan akan pergi

tapilampu-lampu kota
menampakan wajah puisi
sesat di rimba basi

arak-arakan orang pedalaman
kunang-kunang malam
tak pergi setia mencumbu sampai pagi

Anyer, 290103





Posted by Modal Gratis : 11:40 PM



Sunday, February 23, 2003

DEKLARASI FLP CABANG SERANG

Assalamualaikum wr wb
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim dan puji syukur ke hadirat Illahi Rabb, Forum Lingkar Pena Cabang Serang (FLP Cab.Serang) telah dibentuk pada hari Minggu tanggal 23 Februari 2003 bertepatan dengan 21 Dzulhijjah 1403 pukul 17.00 di Serang. Dengan ketua Sdr. Ibnu Adam Aviciena. Alamat Sekretariat: Komplek Hegar Alam 40, Serang 42118

FLP Cab.Serang mempunyai fungsi ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara menumbuh kembangkan minat baca tulis di masyarakat, terutama masyarakat Serang Banten. Karena kami yakin bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tak bisa dipisahkan dari perkembangan minat baca tulis masyarakat.

semoga kehadiran kami dapat mengangkat para generasi muda yang memiliki minat dan bakat dalam dunia baca tulis, Dan besar harapan kami, dukungan dari segenap masyarakat.

Akhirnya, semoga Allah SWT meridhoi semua niat baik kita. Amin



Wassalam

Ibnu Adam Aviciena


Posted by Modal Gratis : 5:22 AM

Posted by Modal Gratis : 5:20 AM



kembali ke atas